Senin, 16 November 2009

sudut pandang tentang remaja Bali

dalam satu bulan ini aq mendapat kiriman satu (1) dari salah seorang temanku dalam sebuah provider email. teman ini mempertanyakan "Kenapa remaja Bali susyah untuk datang ke ajang film festival??"

pertanyaan-pertanyaan seperti diatas memang sering terbersit dalam pikiran kita bukan??? apa lagi bagi Anda yang merasa orang Bali asli (penduduk Bali).

Bali seperti yang kita ketahui memang merupakan tempat tujuan wisata, tempat untuk mengembangkan spiritualitas (menurut pengarang novel yang filmnya dibintangi oleh Julia Robert), bahkan tak hanya itu, Bali kerap kali menjadi obyek event besar atau sekelas internasional. namun, untuk event sederhana dan beredukasi tinggi kayaknya agak kurang ya diminati disini... yaph, begitulah kira-kira jika penulis coba jabarkan maksud pertanyaan diatas.

Remaja Bali sering dikatakan "KOH NGOMONG" , suka mengekor, dan malas mencoba hal baru.... karateristik yang begini ini yang sering digambarkan orang-orang non Bali yang pernah penulis kenal. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa remaja Bali tak seperti remaja Jakarta atau Yogyakarta yang haus akan informasi dan selalu giat mengikuti event.

Pertama, faktor lingkungan... lingkungan atau perilaku sosial masyarakat Bali sendiri yang lebih mengutamakan acara-acara keagamaan dan adat-istiadat membuat remaja Bali dididik untuk susah berkembang dan gagu menerima globalisasi secara selektif dan efektif untuk berakulturasi dengan budayanya.

Kedua, publikasi.... gaya publikasi yang diterapkan oleh pegiat event kurang mendalami karakteristik remaja bali yang malas mencari informasi sendiri. faktor ini sering low... menjadi pemicu utama remaja bali tak berkunjung ke event yang ada.... menurut mereka publikasi kurang meluas dan tak tepat sasaran... faktor publikasi yang salah sasaran ini lebih mengecewakan lagi karena ditambah kurangnya rasa "perlu tahu" dari setiap remaja akan kegiatan yang ada.

Ketiga, timing event.... waktu pelaksanaan kegiatan yang sering bentrok dengan acara keagamaan menjadi faktor ketiga dalam menjawab pertanyaan temanku itu... menurut hemat penulis, khusus di Bali pengadaan event-event jika ingin dikunjungi, sebaiknya memperhatikan hari-hari keagamaan yang ada di bali. event yang tidak diadakan 2 atau 3 hari sebelum hari raya galungan misalnya akan lebih efektif ketimbang diadakan pada hari itu.

ketiga faktor ini hanya sebagian kecil yang penulis ketahui... tak heran karena tiga faktor inilah remaja bali sering enggan berkunjung ke suatu event indie yang ada dikota atau kabupatennya.Pencitraan yang baik terhadap penyelenggara event (event organizer) tak luput pula diperhatikan.... bagi orang bali kepercayaan yang tinggi atas suatu prestise adalah KUNCINYA....

Kamis, 19 Februari 2009

prakata

bali adalah ibu pertiwi-KU...
tempat-KU dilahirkan....
tempat KU dibesarkan...
dan tempat KU mencari penghidupan...

itulah yang sering diungkapkan oleh rakyat Bali. apalagi saat ini sedang gencar-gencarnya program ajeg bali.... nah, apakah hal tersebut dapat terwujud? atau benarkah Bali masih tetap ajeg dengan segala kekhasan dan adatnya???

mungkin beberapa tulisan disini akan membuka mata dan mendapatkan info yang lebih fresh dalam benak Anda semua..

selamat datang di dunia BALI-KU... karena BALI adalah milik kita dan untuk kita....