banyak pengunjung atau wisatawan yang bertanya-tanya kenapa di Bali selalu menggunakan mata angin jika menunjuk suatu tempat atau lokasi??? yap,, jawabnya karena arah-arah mata angin selalu identik dengan gunung. dan hal ini sudah menjadi kebiasaan sejak jaman nenek moyang orang Bali.
jika ditilik gunung ternyata memiliki ihwal kesucian bagi umat Hindu di Bali. tengok saja arah pura pada setiap rumah di Bali pasti ada disebelah utara. konon ini dikarenakan utara merupakan manifestasi dari dewa surya yang berada di arah utara. jadi sudah barang tentu pura (padma) di setiap rumah juga menghadap ke utara.
selain itu, coba juga tengok arah tempat tidur orang Bali pasti arah kepala diutara dan kaki diselatan. coba saja ditanya jika anda berada di Bali.
kembali lagi pada pokok kenapa arah mata angin utara menjadi lambang kesucian, alasan utama karena gunung. orang bali menganggap gunung sebagai tempat suci. sehingga arah utara di Bali selalu berpatokan pada gunung, yakni.
makanya ada perbedaan yang cukup mencolok di satu daerah di Bali perihal arah mata angin (utara). kota yang identik dengan hewan mama lia (lumba-lumba) dan identik juga dengan buah durian... hmm yummy...
weits.. kita gag ngomongin makanan kali ini.. yang kumaksud adalah Singaraja (Buleleng).
aneh jika kita berada di kota yang satu ini. BINGUNG... jika kita bertanya arah utara mana ya?? pasti yang ditunjuk adalah arah selatan. ya.. itulah perbedaannya. utara = gunung sedangkan selatan = pantai.. itulah patokannya..
inilah yang membedakan Bali dengan daerah lainnya. sifat religiusnya yang kental membuat arah mata angin pun harus berdasarkan tat letak manifestasi dewa dan arah kesucian.
Rabu, 10 Maret 2010
Kamis, 04 Maret 2010
CURHATku-pariwisata picu perubahan sosial bali
Bali selalu identik dengan keramah tamahan, sopan santun, lemah lembut dan baik hati penduduknya... orang mengira Bali tak akan berubah dengan virus globalisasi. tapi, nyatanya Bali memiliki perubahan sosial didalamnya setelah pariwisata datang dan menjamahi kota-kota pesisir dan kota seni. Bali berubah jadi kota INTERNASIONAL. dengan bahasa inggris yang menjadi bahasa wajibnya-bukan bahasa bali atau indonesia...
tak hanya itu, gaya bergaul yang individualis juga timbul karena pariwisata. kesannya kayak ada pertukaran budaya gitu.... orang-orang bali pada suka berlagak dan berpakaian ala bule amerika atau australia, bahkan ajang kumpul kebo juga dihalalkan saja, bahkan "berjemur pake bikini juga sudah biasa cox disini...", mengingat budaya barat yang cenderung beredar di Bali.
perubahan sosial memang sering terjadi pada masyarakat. tidak hanya perilaku, gaya berbusana juga menciptakan perubahan pada kota yang identik dengan pariwisata.
berikut beberapa pendapat kawand2ku di facebook :
priska ivanesia : Banyak toko, mal, smua pada mo bisnis.. Klo libur, pada macet.. Gt x ya.. Wkwkk..
erni kasih simamora : Perubahan s0sial..
Hmmff...
Perilaku yg merubah gaya hidup,p0la pikir,tingkah laku.
Cth sdrhana yg paling tampak pd penggunaan bahasa...
ajust raditya :
tak hanya itu, gaya bergaul yang individualis juga timbul karena pariwisata. kesannya kayak ada pertukaran budaya gitu.... orang-orang bali pada suka berlagak dan berpakaian ala bule amerika atau australia, bahkan ajang kumpul kebo juga dihalalkan saja, bahkan "berjemur pake bikini juga sudah biasa cox disini...", mengingat budaya barat yang cenderung beredar di Bali.
perubahan sosial memang sering terjadi pada masyarakat. tidak hanya perilaku, gaya berbusana juga menciptakan perubahan pada kota yang identik dengan pariwisata.berikut beberapa pendapat kawand2ku di facebook :
priska ivanesia : Banyak toko, mal, smua pada mo bisnis.. Klo libur, pada macet.. Gt x ya.. Wkwkk..
erni kasih simamora : Perubahan s0sial..
Hmmff...
Perilaku yg merubah gaya hidup,p0la pikir,tingkah laku.
Cth sdrhana yg paling tampak pd penggunaan bahasa...
ajust raditya :
tri winata : Kendala perubatan tapal batas merupakan masalah pelik....
sejengkal bergeser, nyawa taruhannya......
sejengkal bergeser, nyawa taruhannya......
banyak hal yang bisa terjadi pada masyarakat Bali saat menjadi kota pariwisata... gerbang internasional terbuka dan globalisasi merajalela tak terkendali pada Bali. mari mawas diri dan berperilaku positif agar tak termakan globalisasi.
Jumat, 12 Februari 2010
Rumah Bambu Linda Garland
dari bahan apakah rumah tempatmu tinggal sekarang?????
itulah pertanyaan awal yang dilantunkan penulis pada viewers semua dan tak menutup pertanyaan ini saya lantunkan pada diri saya sendiri....
QUESTION : kenapa saya bertanya perihal bahan rumah bukannya desain atau arsitektur rumahmu?????
ANSWER : karena rumah milik Linda Garland, penduduk asli Irlandia di UBUD-BALI ini memiliki rumah yang bisa dikatakan extreme dan lain dari biasanya....
Rumah BAMBU... ya itulah sebutan yang sering dilantunkan oleh pelancong yg mengunjungi rumah Ibu rumah tangga yang mendesain sendiri tipe rumahnya ini. Berawal dari banyaknya bambu yang tumbuh disekitar tempat tinggalnya membuat Linda berinisiatif membangun rumahnya dari bahan bambu yang tumbuh disekitar rumahnya.
Tanpa menggunakan paku besi sebagai penyangga, Linda yang dibantu oleh beberapa tukang bangunan ini menggunakan serat pohon dan atap jerami sebagai pelengkapnya. Tak hanya itu, dengan konsep ramah lingkungan, Linda berusaha memadupadankan interiornya dengan bambu-bambu yang ada dihalamannya.
How amazing.... rumah yang terletak didaerah Nyuh Kuning ini memiliki kain-kain (pakaian) sampai lampu-lampunya pun terbuat dari bambu yang dihias sedemikian cantik... dan tak mahal tentunya....
Sayang, rumah seperti ini hanya ada satu-satunya di Bali. Coba saja semua rumah di Bali terbuat dari bambu, akan mengurangi dampak global warming dan eksploitasi bahan tambang............
(related URL: http://www.baliblog.com/places-to-go/regional-guides/linda-garlands-house-in-nyuhkuning-bali.html)
itulah pertanyaan awal yang dilantunkan penulis pada viewers semua dan tak menutup pertanyaan ini saya lantunkan pada diri saya sendiri....
QUESTION : kenapa saya bertanya perihal bahan rumah bukannya desain atau arsitektur rumahmu?????
ANSWER : karena rumah milik Linda Garland, penduduk asli Irlandia di UBUD-BALI ini memiliki rumah yang bisa dikatakan extreme dan lain dari biasanya....
Rumah BAMBU... ya itulah sebutan yang sering dilantunkan oleh pelancong yg mengunjungi rumah Ibu rumah tangga yang mendesain sendiri tipe rumahnya ini. Berawal dari banyaknya bambu yang tumbuh disekitar tempat tinggalnya membuat Linda berinisiatif membangun rumahnya dari bahan bambu yang tumbuh disekitar rumahnya.
Tanpa menggunakan paku besi sebagai penyangga, Linda yang dibantu oleh beberapa tukang bangunan ini menggunakan serat pohon dan atap jerami sebagai pelengkapnya. Tak hanya itu, dengan konsep ramah lingkungan, Linda berusaha memadupadankan interiornya dengan bambu-bambu yang ada dihalamannya.
How amazing.... rumah yang terletak didaerah Nyuh Kuning ini memiliki kain-kain (pakaian) sampai lampu-lampunya pun terbuat dari bambu yang dihias sedemikian cantik... dan tak mahal tentunya....
Sayang, rumah seperti ini hanya ada satu-satunya di Bali. Coba saja semua rumah di Bali terbuat dari bambu, akan mengurangi dampak global warming dan eksploitasi bahan tambang............
(related URL: http://www.baliblog.com/places-to-go/regional-guides/linda-garlands-house-in-nyuhkuning-bali.html)
Senin, 16 November 2009
sudut pandang tentang remaja Bali
dalam satu bulan ini aq mendapat kiriman satu (1) dari salah seorang temanku dalam sebuah provider email. teman ini mempertanyakan "Kenapa remaja Bali susyah untuk datang ke ajang film festival??"
pertanyaan-pertanyaan seperti diatas memang sering terbersit dalam pikiran kita bukan??? apa lagi bagi Anda yang merasa orang Bali asli (penduduk Bali).
Bali seperti yang kita ketahui memang merupakan tempat tujuan wisata, tempat untuk mengembangkan spiritualitas (menurut pengarang novel yang filmnya dibintangi oleh Julia Robert), bahkan tak hanya itu, Bali kerap kali menjadi obyek event besar atau sekelas internasional. namun, untuk event sederhana dan beredukasi tinggi kayaknya agak kurang ya diminati disini... yaph, begitulah kira-kira jika penulis coba jabarkan maksud pertanyaan diatas.
Remaja Bali sering dikatakan "KOH NGOMONG" , suka mengekor, dan malas mencoba hal baru.... karateristik yang begini ini yang sering digambarkan orang-orang non Bali yang pernah penulis kenal. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa remaja Bali tak seperti remaja Jakarta atau Yogyakarta yang haus akan informasi dan selalu giat mengikuti event.
Pertama, faktor lingkungan... lingkungan atau perilaku sosial masyarakat Bali sendiri yang lebih mengutamakan acara-acara keagamaan dan adat-istiadat membuat remaja Bali dididik untuk susah berkembang dan gagu menerima globalisasi secara selektif dan efektif untuk berakulturasi dengan budayanya.
Kedua, publikasi.... gaya publikasi yang diterapkan oleh pegiat event kurang mendalami karakteristik remaja bali yang malas mencari informasi sendiri. faktor ini sering low... menjadi pemicu utama remaja bali tak berkunjung ke event yang ada.... menurut mereka publikasi kurang meluas dan tak tepat sasaran... faktor publikasi yang salah sasaran ini lebih mengecewakan lagi karena ditambah kurangnya rasa "perlu tahu" dari setiap remaja akan kegiatan yang ada.
Ketiga, timing event.... waktu pelaksanaan kegiatan yang sering bentrok dengan acara keagamaan menjadi faktor ketiga dalam menjawab pertanyaan temanku itu... menurut hemat penulis, khusus di Bali pengadaan event-event jika ingin dikunjungi, sebaiknya memperhatikan hari-hari keagamaan yang ada di bali. event yang tidak diadakan 2 atau 3 hari sebelum hari raya galungan misalnya akan lebih efektif ketimbang diadakan pada hari itu.
ketiga faktor ini hanya sebagian kecil yang penulis ketahui... tak heran karena tiga faktor inilah remaja bali sering enggan berkunjung ke suatu event indie yang ada dikota atau kabupatennya.Pencitraan yang baik terhadap penyelenggara event (event organizer) tak luput pula diperhatikan.... bagi orang bali kepercayaan yang tinggi atas suatu prestise adalah KUNCINYA....
pertanyaan-pertanyaan seperti diatas memang sering terbersit dalam pikiran kita bukan??? apa lagi bagi Anda yang merasa orang Bali asli (penduduk Bali).
Bali seperti yang kita ketahui memang merupakan tempat tujuan wisata, tempat untuk mengembangkan spiritualitas (menurut pengarang novel yang filmnya dibintangi oleh Julia Robert), bahkan tak hanya itu, Bali kerap kali menjadi obyek event besar atau sekelas internasional. namun, untuk event sederhana dan beredukasi tinggi kayaknya agak kurang ya diminati disini... yaph, begitulah kira-kira jika penulis coba jabarkan maksud pertanyaan diatas.
Remaja Bali sering dikatakan "KOH NGOMONG" , suka mengekor, dan malas mencoba hal baru.... karateristik yang begini ini yang sering digambarkan orang-orang non Bali yang pernah penulis kenal. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa remaja Bali tak seperti remaja Jakarta atau Yogyakarta yang haus akan informasi dan selalu giat mengikuti event.
Pertama, faktor lingkungan... lingkungan atau perilaku sosial masyarakat Bali sendiri yang lebih mengutamakan acara-acara keagamaan dan adat-istiadat membuat remaja Bali dididik untuk susah berkembang dan gagu menerima globalisasi secara selektif dan efektif untuk berakulturasi dengan budayanya.
Kedua, publikasi.... gaya publikasi yang diterapkan oleh pegiat event kurang mendalami karakteristik remaja bali yang malas mencari informasi sendiri. faktor ini sering low... menjadi pemicu utama remaja bali tak berkunjung ke event yang ada.... menurut mereka publikasi kurang meluas dan tak tepat sasaran... faktor publikasi yang salah sasaran ini lebih mengecewakan lagi karena ditambah kurangnya rasa "perlu tahu" dari setiap remaja akan kegiatan yang ada.
Ketiga, timing event.... waktu pelaksanaan kegiatan yang sering bentrok dengan acara keagamaan menjadi faktor ketiga dalam menjawab pertanyaan temanku itu... menurut hemat penulis, khusus di Bali pengadaan event-event jika ingin dikunjungi, sebaiknya memperhatikan hari-hari keagamaan yang ada di bali. event yang tidak diadakan 2 atau 3 hari sebelum hari raya galungan misalnya akan lebih efektif ketimbang diadakan pada hari itu.
ketiga faktor ini hanya sebagian kecil yang penulis ketahui... tak heran karena tiga faktor inilah remaja bali sering enggan berkunjung ke suatu event indie yang ada dikota atau kabupatennya.Pencitraan yang baik terhadap penyelenggara event (event organizer) tak luput pula diperhatikan.... bagi orang bali kepercayaan yang tinggi atas suatu prestise adalah KUNCINYA....
Kamis, 19 Februari 2009
prakata
bali adalah ibu pertiwi-KU...
tempat-KU dilahirkan....
tempat KU dibesarkan...
dan tempat KU mencari penghidupan...
itulah yang sering diungkapkan oleh rakyat Bali. apalagi saat ini sedang gencar-gencarnya program ajeg bali.... nah, apakah hal tersebut dapat terwujud? atau benarkah Bali masih tetap ajeg dengan segala kekhasan dan adatnya???
mungkin beberapa tulisan disini akan membuka mata dan mendapatkan info yang lebih fresh dalam benak Anda semua..
selamat datang di dunia BALI-KU... karena BALI adalah milik kita dan untuk kita....
tempat-KU dilahirkan....
tempat KU dibesarkan...
dan tempat KU mencari penghidupan...
itulah yang sering diungkapkan oleh rakyat Bali. apalagi saat ini sedang gencar-gencarnya program ajeg bali.... nah, apakah hal tersebut dapat terwujud? atau benarkah Bali masih tetap ajeg dengan segala kekhasan dan adatnya???
mungkin beberapa tulisan disini akan membuka mata dan mendapatkan info yang lebih fresh dalam benak Anda semua..
selamat datang di dunia BALI-KU... karena BALI adalah milik kita dan untuk kita....
Langganan:
Postingan (Atom)


ad embel2 pariwisata
mgkn bule mkan dsana
saingan sma mhsiswa
efek sosialny...
mhsiswa jd pnter bhsa asing
;p